Categories
Uncategorized

LRT Jakarta: Katalisator Utama Mobilitas Baru di Timur Jakarta

Jakarta, 07 Februari 2026 – Forum Diskusi Transportasi Jakarta (FDTJ) kembali menyelenggarakan edisi terbaru diskusi rutin “Angkot” yang ke-11. Bertempat di Stasiun LRT Jakarta Pulomas, diskusi kali ini mengangkat tajuk “LRT Jakarta sebagai Katalis Mobilitas Baru di Timur Jakarta”.

Acara ini menghadirkan para pemangku kepentingan dari Dinas Perhubungan DKI Jakarta, PT Jakarta Propertindo, PT LRT Jakarta, hingga pakar tata kota untuk membahas masa depan integrasi transportasi di area Jakarta Timur.

Menuju Jaringan Transportasi Kelas Dunia

Membuka sesi diskusi, Adriansyah Yasin selaku Executive Director FDTJ menyampaikan bahwa Jakarta telah mencatatkan prestasi gemilang pada 2025 dengan meraih gelar The Most Promising City untuk transportasi umum dan ramah sepeda dari South East Asia Mobility Award. Namun, pengembangan transportasi yang selama ini terpusat di tengah dan selatan perlu diperluas.

“LRT Jakarta hadir sebagai instrumen perubahan untuk menyeimbangkan kualitas mobilitas, khususnya bagi warga di wilayah Timur Jakarta,” ujar Adriansyah.

Target Operasional dan Tantangan Teknis Fase 1B

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Eko Sulistyo (Dishub DKI Jakarta) menargetkan pengembangan LRT Jakarta rute Velodrome-Manggarai selesai pada tahun 2026 ini. Jaringan ini diproyeksikan tidak hanya berhenti di Manggarai, namun ke depan akan membentuk satu loop besar hingga ke Dukuh Atas, Tanah Abang, hingga Pesing.

Ramdani Akbar, Project Director LRT Jakarta (Jakpro), memaparkan detail teknis Fase 1B sepanjang 6,4 kilometer yang mencakup 5 stasiun baru:

  • Stasiun Rawamangun (progres fisik saat ini telah melampaui 90%).
  • Stasiun Pramuka BPKP.
  • Stasiun Pasar Pramuka.
  • Stasiun Matraman.
  • Stasiun Manggarai.

Konstruksi di Manggarai menjadi salah satu titik paling krusial karena rel harus dibangun di ketinggian 30 meter di atas jalur kereta eksisting yang sangat padat. Jakpro juga melakukan inovasi pada desain stasiun Fase 1B, di mana area concourse dibuat lebih luas untuk mengakomodasi potensi pendapatan non-tiket melalui tenan-tenan komersial.

Pengalaman Perjalanan dan Inklusivitas

Dari sisi operator, M. Rosyid Setiawan (PT LRT Jakarta) menekankan bahwa keamanan dan ketepatan waktu adalah prioritas utama. Selama 6 tahun beroperasi, LRT Jakarta berhasil mempertahankan catatan nol insiden fatal (zero fatal safety issue).

“Kami menargetkan dapat mengangkut hingga 80.000 penumpang per hari secara bertahap setelah Fase 1B beroperasi,” ungkap Rosyid. Ia juga menambahkan bahwa layanan inklusif seperti LRTJ Care Assistance akan terus diperkuat untuk membantu mobilitas rekan-rekan disabilitas.

Placemaking: Menghidupkan Kawasan Timur

Dedi Kusuma Wijaya dari Karsa City Lab menyoroti pentingnya konsep placemaking agar stasiun LRT tidak sekadar menjadi tempat transit, melainkan destinasi.

  • Velodrome diharapkan dapat bertransformasi menjadi “GBK-nya Timur Jakarta” dengan konsep sportainment.
  • Kelapa Gading berpotensi menjadi distrik kuliner terkurasi yang menyerupai kawasan Blok M.
  • Kunci keberhasilan ini adalah penyediaan jalur pedestrian yang nyaman agar masyarakat gemar berjalan kaki dari dan menuju stasiun.

Rencana Integrasi Masa Depan

Salah satu poin penting dalam rencana tindak lanjut adalah integrasi fisik Stasiun LRT Pulomas dengan Halte Transjakarta Pulomas yang akan dibangun bersamaan dengan proyek MRT East-West. Hal ini diharapkan menciptakan ekosistem transportasi yang seamless bagi warga Tangerang maupun Bekasi yang ingin menuju Jakarta.

Melalui semangat kolaborasi antar stakeholder, operasional penuh LRT Jakarta dari Pegangsaan Dua hingga Manggarai diharapkan menjadi solusi mobilitas yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan bagi seluruh warga Jakarta.


Notulis: Abel Pramudya Editor: Irham Syarif